Rabu, 14 November 2012

Contoh Menulis Intisari Buku Non Fiksi



INTISARI BUKU NON FIKSI
Judul               : Mengajar Dengan  Sukses
Pengarang       : J. Mursell dan Prof. Dr. S. Nasution, M.A.
Tebal               : 130 Halaman
Terbit               :  Cetakan pertama, Maret 1995
                           Cetakan kedua, April 2002
                           Cetakan ketiga, September 2006
                           Cetakan keempat, November 2006
Penerbit           : PT. Bumi Akasara

            Buku ‘Mengajar Dengan Sukses’ ini memiliki tujuh belas bagian yakni, mengajar dengan sukses:maknanya, masalah mengajar sebagai organisasi, pengontrolan belajar dengan penuh makna, orientasinya : titik berat khusus, Prinsip hubungan dan organisasi pelajaran, prinsip hubungan dan penilaian cara mengajar, prinsip fokus dan organisasi pengajaran, prinsip fokus dan penilaian pengajaran, prinsip sosialisasi dan penilaian organisasi cara mengajar, prinsip individualisasi dan organisasi pelajaran, prinsip individualisasi dan penilaian cara mengajar, prinsip urutan dan organisasi pelajaran, prinsip urutan dan penilaian cara mengajar, prinsip evaluasi dan organisasi pelajaran, prinsip evaluasi dan penilaian cara mengajar, dan sintesis dan aplikasi prinsip-prinsip mengajar.
            Seorang guru sudah pasti mempunyai tugas mengajar untuk murid-muridnya. Namun terkadang seorang guru tidak memperhatikan maksud dari tujuan mengajarnya. Apakah mengajarnya sudah sukses atau tidak. Padahal guru dikatak berhasil apabila murid-muridnya menguasai bahan pelajaran tersebut dengan mantap dan lama dikuasai. Selain itu mengajar yang dikatakan sukses apabila murid-murid dapat menggunakan apa yang dipelajarinya dengan bebas serta penuh kepercayaan dalam berbagai situasi dalam hidupnya.
            Biasanya hasil mengajar yang diperoleh anak-anak adalah dalam bentuk kata-kata yang dihafal namun cepat hilang. Hasil belajar yang seperti ini tidak terserap baik pada anak, dan tidak membentuk perkembangan mental anak. Guru yang mengajar dengan cara seperti ini tidak mengajar dengan sukses.
            Belajar tidak hanya terdiri dari satu macam pola tertentu, namun memerlukan kecakapan, pemahaman, inisiatif, dan kerativitas dari pihak guru itu sendiri. Yang diharapkan dalam mengajar ialah anak-anak dapat memahami pelajaran secara mendalam sehingga ia lama mengingatnya serta dapat menggunakannya dalam hidupnya, bukan jusrtu sebaliknya. Sekarang guru-guru menghadapi situasi yang mengandung tantangan untuk memperbaiki cara-cara mengajar yang meberi hasil terbaik.
            Masalah lain dalam mengajar dengan sukses ialah mengorganisasi pelajaran untuk memperoleh hasil-hasil autentik yang sungguh-sungguh, yang sejati. Bahwa mengajar adalah mengorganisasinhal-hal berhubungan dengan bekajar dapat dilihat pada segala macam situasi mengajar, yang baik maupun buruk.
            Guru dikatakan sebagai organisator yang baik bukan sebagai autokrat, tidak berlaku sama dengan setiap anggota kelompok lainnya, membantu kelompok dan individu untuk menemukan, merumuskan dan menjelaskan tujuannya, mendelegasi dan mendistribusi tanggung jawab seluas mungkin, harus memiliki inisiatif, mengutamakan segi-segi baik daripada buruknya, menjalankan control dan mengkritik sendiri.
            Usaha mengubah cara mengajar yang lebih baik dengan ialah dengan menemukan metode yang lebih baik, penyajian bahan  pelajaran dengan cara memberikan pertanyaan, tuga yang lebih baik serta menggunakan macam-macam alat peraga. Selain itu mengadakan perubahan yang fundamental dalam hubungan antara guru dan murid-murid dalam kegiatan-kegiatan murid.
            Banyak pelajaran di sekolah yang tidak bermakna bagi anak-anak yang tidak member hasil yang autentik karena tidak mengandung arti bagi anak-anak itu sendiri. Akibatnya anak-anak mengahafalnya di luar kepala tanpa memahaminya dan segera melupakannya. Padahal pelajaran itu bermakna sejauh pelajaran itu berharga bagi si pelajar. Belajar bermakna dalam arti pelajaran itu penting dan berarti bagi si pelajar, dalam belajar menggunakan proses mental tinggi yang tidak hanya membentuk asosiasi-asosiasi secara mekanis.
            Belajar bergantung pada kemauan belajar. Sikap acuh tak acuh tidak akan memberi hasil belajar yang sungguh-sungguh. Belajar member hasil yang autentik melalui proses penyelidikan dan penemuan, dimulai dengan hasrat untuk mencapai jawaban dari suatu soal dan berlangsung dengan usaha eksperimental yang aneka ragam guna memperoleh pemecahan masalah itu.
            Dari hasil belajar yang baik, ilmu yang dimiliki dapat ditransferkan ke bidang lain. Transfer ilmu bergantung pada persamaan-persamaan unsure dan persamaan itu baru dapat dilihat berdasarkan pemahaman. Makin dangkal pemahaman makin sedikit transfer, begitupun sebaliknya. Mengajar dengan sukses berarti member pelajaran sedemikian rupa sehingga terjamin adanya transfer.
            Pelajaran tidak akan berhasil bila dilakukan secara abstrak. Pelajaran harus diberikan dalam konteks atau hubungan tertentu agar pelajaran itu bermakna atau berarti. Yang paling penting ialah bahwa hubungan tau konteks yang baik harus menimbulkan interaksi yang dinamis dan kuat dari murid. Untuk memperoleh pengertian diperlukan hubungan pengalaman yang konkret, dan pengalamn konkret serta dinamis untuk memperoleh pengertian harus sederhana tetapi banyak.
            Ada enam skala untuk menilai sejauh manakah situasi mengajar seseorang yaitu, tingkat satu, hanya menggunakan buku pelajaran; tingkat dua, buku pelajaran dengan bacaan tambahan bersifat akademis; tingkat tiga menggunakan sumber yang non akademis seperti majalah, surat kabar, brosur dan sebagainya; tingkat empat menggunakan bahan-bahan audiovisual seperti gambar-gambar, film, peta dan sebagainya; tingkat lima, menggunakan demonstrasi dan karyawisata; tingkat enam, menggunakan perorangan, sosial, masyarakat, di dalam amupun luar sekolah.
            Pelajaran mengandung makna dan efektif jika diorganisasi sekitar suatu fokus. Fokus membangkitkan suatu tujuan, member kebulatan dalam pelajaran, dan fokus mengorganisasi pelajarn sebagai proses penyelidikan dan penemuan. Fokus harus dipahami atau dipecahkan agar dapat melaksanakan suatu usaha atau pekerjaan dengan sukses. Agar pelajaran efektif persiapan guru seharusnya merencanakan fokus-fokus yang memberi kebulatan pelajaran yang akan  mendorong anak memikirkan masalah atau poko-pokok tertentu.
           


Agar anak bisa berpikir, pelajaran itu harus mengandung problem yang bermakna bagi anak. Motivasi bukanlah sesuatu hal yang tersendiri melainkan suatu bertalian dengan organisasi pelajaran. Motivasi tidak perlu dengan hukuman atau pujian, tetapi dengan pengajaran yang baik.
            Keunggulan dari buku ini ialah membahas dengan tuntas cara mengajar yang sukses, tidak hanya dengan memberi pengajaran biasa, namun dengan banyak cara agar mengajar itu dikatakan sukses atau berhasil. Buku ini layak dibaca bagi semua kalangan, baik dari kalangan remaja hingga kalangan dewasa bahkan untuk guru-guru agar mengetahui bagaimana cara mengajar yang paling efektif.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Rabu, 14 November 2012

Contoh Menulis Intisari Buku Non Fiksi



INTISARI BUKU NON FIKSI
Judul               : Mengajar Dengan  Sukses
Pengarang       : J. Mursell dan Prof. Dr. S. Nasution, M.A.
Tebal               : 130 Halaman
Terbit               :  Cetakan pertama, Maret 1995
                           Cetakan kedua, April 2002
                           Cetakan ketiga, September 2006
                           Cetakan keempat, November 2006
Penerbit           : PT. Bumi Akasara

            Buku ‘Mengajar Dengan Sukses’ ini memiliki tujuh belas bagian yakni, mengajar dengan sukses:maknanya, masalah mengajar sebagai organisasi, pengontrolan belajar dengan penuh makna, orientasinya : titik berat khusus, Prinsip hubungan dan organisasi pelajaran, prinsip hubungan dan penilaian cara mengajar, prinsip fokus dan organisasi pengajaran, prinsip fokus dan penilaian pengajaran, prinsip sosialisasi dan penilaian organisasi cara mengajar, prinsip individualisasi dan organisasi pelajaran, prinsip individualisasi dan penilaian cara mengajar, prinsip urutan dan organisasi pelajaran, prinsip urutan dan penilaian cara mengajar, prinsip evaluasi dan organisasi pelajaran, prinsip evaluasi dan penilaian cara mengajar, dan sintesis dan aplikasi prinsip-prinsip mengajar.
            Seorang guru sudah pasti mempunyai tugas mengajar untuk murid-muridnya. Namun terkadang seorang guru tidak memperhatikan maksud dari tujuan mengajarnya. Apakah mengajarnya sudah sukses atau tidak. Padahal guru dikatak berhasil apabila murid-muridnya menguasai bahan pelajaran tersebut dengan mantap dan lama dikuasai. Selain itu mengajar yang dikatakan sukses apabila murid-murid dapat menggunakan apa yang dipelajarinya dengan bebas serta penuh kepercayaan dalam berbagai situasi dalam hidupnya.
            Biasanya hasil mengajar yang diperoleh anak-anak adalah dalam bentuk kata-kata yang dihafal namun cepat hilang. Hasil belajar yang seperti ini tidak terserap baik pada anak, dan tidak membentuk perkembangan mental anak. Guru yang mengajar dengan cara seperti ini tidak mengajar dengan sukses.
            Belajar tidak hanya terdiri dari satu macam pola tertentu, namun memerlukan kecakapan, pemahaman, inisiatif, dan kerativitas dari pihak guru itu sendiri. Yang diharapkan dalam mengajar ialah anak-anak dapat memahami pelajaran secara mendalam sehingga ia lama mengingatnya serta dapat menggunakannya dalam hidupnya, bukan jusrtu sebaliknya. Sekarang guru-guru menghadapi situasi yang mengandung tantangan untuk memperbaiki cara-cara mengajar yang meberi hasil terbaik.
            Masalah lain dalam mengajar dengan sukses ialah mengorganisasi pelajaran untuk memperoleh hasil-hasil autentik yang sungguh-sungguh, yang sejati. Bahwa mengajar adalah mengorganisasinhal-hal berhubungan dengan bekajar dapat dilihat pada segala macam situasi mengajar, yang baik maupun buruk.
            Guru dikatakan sebagai organisator yang baik bukan sebagai autokrat, tidak berlaku sama dengan setiap anggota kelompok lainnya, membantu kelompok dan individu untuk menemukan, merumuskan dan menjelaskan tujuannya, mendelegasi dan mendistribusi tanggung jawab seluas mungkin, harus memiliki inisiatif, mengutamakan segi-segi baik daripada buruknya, menjalankan control dan mengkritik sendiri.
            Usaha mengubah cara mengajar yang lebih baik dengan ialah dengan menemukan metode yang lebih baik, penyajian bahan  pelajaran dengan cara memberikan pertanyaan, tuga yang lebih baik serta menggunakan macam-macam alat peraga. Selain itu mengadakan perubahan yang fundamental dalam hubungan antara guru dan murid-murid dalam kegiatan-kegiatan murid.
            Banyak pelajaran di sekolah yang tidak bermakna bagi anak-anak yang tidak member hasil yang autentik karena tidak mengandung arti bagi anak-anak itu sendiri. Akibatnya anak-anak mengahafalnya di luar kepala tanpa memahaminya dan segera melupakannya. Padahal pelajaran itu bermakna sejauh pelajaran itu berharga bagi si pelajar. Belajar bermakna dalam arti pelajaran itu penting dan berarti bagi si pelajar, dalam belajar menggunakan proses mental tinggi yang tidak hanya membentuk asosiasi-asosiasi secara mekanis.
            Belajar bergantung pada kemauan belajar. Sikap acuh tak acuh tidak akan memberi hasil belajar yang sungguh-sungguh. Belajar member hasil yang autentik melalui proses penyelidikan dan penemuan, dimulai dengan hasrat untuk mencapai jawaban dari suatu soal dan berlangsung dengan usaha eksperimental yang aneka ragam guna memperoleh pemecahan masalah itu.
            Dari hasil belajar yang baik, ilmu yang dimiliki dapat ditransferkan ke bidang lain. Transfer ilmu bergantung pada persamaan-persamaan unsure dan persamaan itu baru dapat dilihat berdasarkan pemahaman. Makin dangkal pemahaman makin sedikit transfer, begitupun sebaliknya. Mengajar dengan sukses berarti member pelajaran sedemikian rupa sehingga terjamin adanya transfer.
            Pelajaran tidak akan berhasil bila dilakukan secara abstrak. Pelajaran harus diberikan dalam konteks atau hubungan tertentu agar pelajaran itu bermakna atau berarti. Yang paling penting ialah bahwa hubungan tau konteks yang baik harus menimbulkan interaksi yang dinamis dan kuat dari murid. Untuk memperoleh pengertian diperlukan hubungan pengalaman yang konkret, dan pengalamn konkret serta dinamis untuk memperoleh pengertian harus sederhana tetapi banyak.
            Ada enam skala untuk menilai sejauh manakah situasi mengajar seseorang yaitu, tingkat satu, hanya menggunakan buku pelajaran; tingkat dua, buku pelajaran dengan bacaan tambahan bersifat akademis; tingkat tiga menggunakan sumber yang non akademis seperti majalah, surat kabar, brosur dan sebagainya; tingkat empat menggunakan bahan-bahan audiovisual seperti gambar-gambar, film, peta dan sebagainya; tingkat lima, menggunakan demonstrasi dan karyawisata; tingkat enam, menggunakan perorangan, sosial, masyarakat, di dalam amupun luar sekolah.
            Pelajaran mengandung makna dan efektif jika diorganisasi sekitar suatu fokus. Fokus membangkitkan suatu tujuan, member kebulatan dalam pelajaran, dan fokus mengorganisasi pelajarn sebagai proses penyelidikan dan penemuan. Fokus harus dipahami atau dipecahkan agar dapat melaksanakan suatu usaha atau pekerjaan dengan sukses. Agar pelajaran efektif persiapan guru seharusnya merencanakan fokus-fokus yang memberi kebulatan pelajaran yang akan  mendorong anak memikirkan masalah atau poko-pokok tertentu.
           


Agar anak bisa berpikir, pelajaran itu harus mengandung problem yang bermakna bagi anak. Motivasi bukanlah sesuatu hal yang tersendiri melainkan suatu bertalian dengan organisasi pelajaran. Motivasi tidak perlu dengan hukuman atau pujian, tetapi dengan pengajaran yang baik.
            Keunggulan dari buku ini ialah membahas dengan tuntas cara mengajar yang sukses, tidak hanya dengan memberi pengajaran biasa, namun dengan banyak cara agar mengajar itu dikatakan sukses atau berhasil. Buku ini layak dibaca bagi semua kalangan, baik dari kalangan remaja hingga kalangan dewasa bahkan untuk guru-guru agar mengetahui bagaimana cara mengajar yang paling efektif.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

.